Peran Agama dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara

Pada saat kita memperingati hari kemerdekaan, tahun ini untuk yang ke 61 kalinya, ada pertanyaan yang mengganggu pikiran siapa saja yang peduli nasib rakyat banyak. Apakah bamgsa Indonesia benar-benar sudah merdeka? Memang dunia internasional sudah lama mengakui, bangsa Indonesia merdeka dan berdaulat, de facto dan de jure. Tetapi dalam kenyataan rakyat kita pada umumnya, atau lebih tepat dikatakan masih banyak, yang belum bebas dari kemiskinan dan kebodohan.
Jumlah penduduk miskin tahun ini, menurut keterangan Pemerintah berkurang, Tetapi opini public tidak sependapat. banyak yang mengatakan sebaliknya, orang miskin makin banyak. Memang Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan, penduduk miskin tahun 2005 berjumlah 35,10 juta. Tahun 2006 meningkat menjadi 39,5 juta. Diantaranya tidak sedikit yang taraf kemiskinannya itu termasuk abject poverty, kemiskinan yang merendahkan martabat manusia. Dan tidak nampak ada titik terang dalam hal ini, mengingat keterbatasan kesempatan dan lapangan kerja. Angka pengangguran terbuka diperkirakan masih diatas 12 juta, pengangguran terselubung diatas 20 juta dari total angkatan kerja di Indonesia yang berjumlah 100 juta lebih. Sedangkan jumlah penduduk terus meningkat tanpa kendali, karena kemunduran dalam pelaksanaan program KB.

Dalam bidang ekonomi apakah kita sudah merdeka? Utang luar negeri kita demikian besar sehingga konon kabarnya 30% APBN kita penggunaannya hanya untuk membayar bunga utang saja. Dengan utang sebesar itu sulit untuk mengatakan bahwa kita sudah merdeka dalam arti yang sesungguhnya. Ketergantungan kita pada modal dan teknologi dari luar masih terlalu besar, sehingga ekonomi kita masih rentan terhadap kekuatan-kekuatan ekonomi dunia.
Bidang-bidang politik, sosial budaya, dan keamanan juga belum mencapai taraf yang dapat dijadikan landasan yang kuat untuk kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Ini semua menunjukkan bahwa kita belum mampu mengelola negara dengan baik. Negara dengan wilayah yang demikian luas, dan sumberdaya alam yang sangat memadai untuk modal kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Sekarang sumberdaya alam itu pun sudah sangat berkurang, lagi-lagi karena mismanagement. Ditambah dengan bencana alam yang bertubi-tubi, sebagian juga karena kebodohan dan keserakahan manusia, maka semakin beratlah beban penderitaan rakyat.
Ulama sering mengatakan, bencana alam dan wabah penyakit merupakan peringatan dari Allah, agar manusia menyadari kedudukannya sebagai hamba Allah, bertaubat dan kembali ke jalan yang lurus (shiraatal mustaqim). seperti tercantum dalam Al Qur’an, surat Ali Imran 3:112 : Ditimpakan kepada mereka kehinaan dimanapun, kecuali jika mereka berpegang pada tali hubungan dengan Allah (hablim minallaah) dan hubungan dengan manusia (hablim minannaas).
Hubungan dengan Allah: dasarnya adalah rukun Islam dan rukun Iman (Q.S. Al Baqarah 2:177 dan An Nisaa 4:136). Sifatnya individual, artinya hanya menyangkut individu yang melakukannya. Orang shalat, maka ia sendiri yang mendapat pahalanya. Demikian juga halnya dengan amalan-amalan ibadah lainnya, shaum, dan ibadah haji. Hanya zakat yang sipatnya sosial, artinya orang lain atau masyarakat juga memperoleh manfaatnya.
Rukun Iman secara explicit dicantumkan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah 2:177 dan An Nisaa 4:136. Menurut kedua surat itu rukun Iman ada lima, yaitu iman kepada Allah, kitab-kitab yang diturunkanNya, para nabi, para Malikat, dan hari akhirat (yaumil akhir). Berpegang kepada tali hubungan dengan Allah secara benar berarti beriman kepada Allah, kitab-kitabNya, para Nabi, para Malikat, dan hari akhirat. Bila Iman kita teguh maka dengan sendirinya kita selalu mentaati segala ketentuan dan firman Allah, yang disampaikan oleh para Nabi, dan tercantum dalam kitab-kitab yang diturunkanNya. Percaya adanya hari akhirat berarti percaya bahwa di akhirat nanti manusia akan diminta pertanggungjawaban tentang semua perbuatan selama hidupnya, dan tidak mungkin lepas dari pertanggungjawaban itu, seperti yang sering terjadi di dunia yang fana ini.
Hubungan dengan manusia (habluminannaas) sifatnya jelas sosial, menyangkut interaksi antara manusia. Tentu saja hubungan antar manusia harus mencerminkan hubungan manusia dengan Allah sesuai qaidah agama. Q.S. Ali Imran 3 : 110 menyatakan Amar ma’ruf nahi munkar, artinya: mengajak/mendorong/menyuruh berbuat baik, mencegah dan melarang perbuatan buruk. Q.S. Al Maaidah 5 : 48 menetapkan: Fa ‘stabiqul khairat, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Ada pula hadith yang keshahihannya tidak diragukan: Ashabbunnaasi ilallaahi anfaauhum linnaasi, sebaik-baiknya manusia di sisi Allah adalah mereka yang bermanfaat bagi seamanya. Masih banyak petunjuk-petunjuk, baik Al Quran maupun Hadith tentang hubungan antar manusia yang seharusnya ditaati, sama seperti petunjuk-petunjuk hubungan dengan Allah.
Tetapi semakin nampak kecenderungan dalam masyarakat untuk lebih mementingkan habluminallaah, sedangkan habluminannaas sering-sering diabaikan. Akibatnya semakin kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari, ketidakadilan, tindakan sewenang-wenang, kezaliman, korupsi, kejahatan, dan perilaku buruk atau kemungkaran lainnya seolah-olah semakin mewabah. Padahal kehidupan agama pada tataran habluminallaah, nampak semakin semarak. Mesjid semakin banyak, diantaranya tidak sedikit yang megah dan mewah, yang pada hari Jumat selalu dipenuhi oleh jema’ahnya. Pengajian diselengarakan dimana-mana. Ibadah haji dan umrah semakin ramai, sehingga untuk ibadah haji terpaksa diterapkan sistem kuota yang membatasi jumlah jema’ah. Masih banyak indikator-indikator lain yang menunjukkan kecenderungan masyarakat untuk lebih mementingkan habluminallaah, sedangkan habluminannaas kurang diperhatikan bahkan diabaikan.
Kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara merupakan kehidupan dalam jaringan interaksi antar manusia yang kompleks dan dinamis. Peran agama pada dasarnya adalah peran mengatur dengan memberikan qaidah-qaidah yang bersifat umum agar interaksi antar manusia dengan berbagai kepentingan berlangsung aman dan tertib. Bagi umat Islam qaidah-qaidah tersebut dapat ditemukan dalam shari’ah Islam, yang wujudnya adalah Qur’an dan Sunnah.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dalam banyak segi kehidupan, termasuk kehidupan dalam hal beragama. Oleh karena itu umat Islam Indonesia harus kembali kepada shari’ah, artinya kita harus sungguh-sungguh berupaya untuk menerapkan qaidah-qaidah Qur’an dan Sunnah dengan bertumpu pada pikiran dan akal sehat, serta dengan pertimbangan pokok, dengan kepentingan umum (maslahat). Seperti dikatakan oleh para Fuqaha (Ahli Fiqih) “Di mana ada maslahat, di situlah jalan Allah”. Agama menghendaki kedamaian, kemaslahatan, dan keselamatan bagi umat manusia. Agama tidak menghendaki kekacauan, kekerasan, dan kejahatan. Maka peran agama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara adalah membawa kedamaian. kemaslahatan, dan keselamatan, amar ma’ruf nahi mungkar, serta mendorong manusia untuk berlomba berbuat kebaikan (fa’stabiqul khairat).
Tetapi tetap saja kemungkaran terjadi, konflik-konflik dengan latar belakang agama, kekerasa yang dilakukan atas nama agama menodai kehidupan beragama dalam masyarakat yang yang pada dasarnya religius. Gejala demikian merupakan indikasi pemahaman yang salah dalam memaknai tujuan beragama. Pemahaman yang benar akan berakibat baik, yaitu berfungsinya agama secara efektif mencegah dan menangkal kemunkaran dalam segala bentuknya. Penghayatan agama yang mendalam akan berujung pada sikap toleran terhadap mereka yang menganut keyakinan yang berbeda.
Demikian juga dalam bidang ekonomi, pemahaman agama yang benar akan menumbuhkan sikap positif yang pada akhirnya membawa kebaikan, meniadakan keterbelakangan, dan kemiskinan serta menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran. Agama tidak dapat dengan sendirinya mewujudkan apa-apa dan tidak menjanjikan apa-apa , jika umatnya tidak mampu berbuat apa-apa. “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sehingga kaum itu merubah keadaan mereka sendiri” (Q.S. Ar Ra’ad 13 : 11). “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu ni’mat yang telah dianugerahkanNya kepada suatu kaum, sehingga kaum itu merubah keadaan mereka sendiri” (Q.S. Al Anfaal 6 : 53).
Demikianlah, peran agama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara hanya akan efektif, bila dudukung oleh pemahaman yang benar oleh umat beragama, tentang makna dan tujuan hidup beragama. Pemahaman dan penghayatan yang benar membawa umat kepada pengamalan yang benar pula, baik pada tataran habluminallaah, maupun pada tataran habluminannaas. Pemahaman, penghayatan dan pengamalan qaidah-qaidah agama secara benar, akan membawa kemaslahatan bagi masyarakat, bangsa, dan negara, yaitu hapusnya keterbelakangan dan kemiskinan, serta terwujudnya kedamaian, kemakmuran dan kesejahteraan. Insya allah
Bandung, 22 Agustus 2006
Disusun oleh: Yuhanda. NPV. 09.027.773

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s