Minal ‘Aidin Wa’l Faiidzin satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air

Judul tersebut di atas pasti menimbulkan pertanyaan; apa hubungannya “Minal ‘Aidin Wa’l Faiidzin” dengan “satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air”? Memang judul tersebut dipilih dengan maksud agar siapapun yang membacanya menjadi penasaran hingga terdorong untuk membaca tulisan ini sampai habis. Mudah-mudahan terjawab pertanyaan yang timbul tadi dan tercapai pula maksud si penulis agar tulisannya benar-benar dibaca.

Dengan ucapan “Minal ‘Aidin Wa’l Faiidzin” kiranya semua yang tahu erat hubungannya dengan hari raya lebaran Idul Firtri dalam bahasa aslinya. Ketika Idul Fitri tiba kita mengucapkan sambil berjabat tangan dengan sesama muslim, biasanya dirangkaikan dengan kata-kata: “mohon maaf lahir batin’. Maka tidak mengherankan, bila banyak yang menyangka bahwa “Minal ‘Aidin Wa’l Faiidzin” itu artinya mohon maaf lahir batin. Merujuk pada keterangan ulama, “Minal ‘Aidin Wa’l Faiidzin” adalah penggalan dari doa: “Ja’alana Allahu wa Iyyahum Minal ‘aidin wa’l faidzin”. Artinya semoga Allah menjadikan kami dan Anda semua orang-orang yang meraih kemenangan.

Penjelasan: ‘aidin, dari akar kata idun, kata kerja yada’u, artinya kembali. Sedangkan faidzin, akar katanya idzun yang berarti kemenangan atau keberuntungan. Jadi maknanya adalah: “dengan kembali meraih kemenangan atau keberuntungan”. Maksud kembali di sini, kembali ke fitrah manusia adalah baik. Fitrah manusia bukan kemunafikan, bukan kekerasan, bukan kejahatan, , bukan keburukkan pada umumnya. maka melalui ibadah saum Ramadhan, manusia kembali kepada fitrahnya, kembali kepada kebaikkan dan dengan demikian meraih kemenangan/keberuntungan.

Lalu apakah hubungannya dengan satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air? Semua juga tahu , semboyan itu adalah inti atau paradigm dari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Kenyataannya sekarang bagaimana? Apakah kondisi bangsa dan negara kita sudah sesuai dengan semboyan yang dicetuskan 80 tahun yang lalu? Banyak yang sudah kita capai terutama bangsa Indonesia sudah merdeka, negara Indonesia masih utuh dari Sabang sampai Merauke. Tetapi kita tidak boleh menutup mata untuk kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan kita dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Bidang-bdang ekonomi, politik, sosial budaya, dan keamanan belum mencapai taraf kemantapan yang dapat dijadikan landasan yang kuat untuk kesejahteraan masyarakat pada umumnya.

Masih terlalu banyak masyarakat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Diantaranya tidak sedikit yang taraf kemiskinannyaitu termasuk “object poverty”, kemiskinan yang merendahkan martabat manusia. Orang mencari makan dari tempat pembuangan sampah, anak-anak yang tinggal kulit pembalut tulang karena gizi buruk, keluarga yang tinggal di gerobak dorong atau sembarang tempat karena tidak punya tempat tinggal, orang berdesak-desakan sampai belasan orang neninggal terinjak-injak hanya untuk memperoleh sumbangan belas kasihan ala kadarnya, itu semua merupakan potret kemiskinan yang nyata.

Partai politik semakin banyak, memberi kesan belum matangnya bangsa kita dalam kehidupan berdemokrasi politik. Kita belum mampu mengembangkan budaya politik sebagai landasan untuk terciptanya stabilitas politik. Budaya politik yang memprioritaskan kepentingan umum, kepentingan rakyat banyak, kepentingan nasional, bukan kepentingan partai atau golongan atau daerah. Budaya politik demikian merupakan syarat mutlak untuk terwujudnya integrasi nasional. Proses demokrasi memang berjalan, bahkan perubahan dari sistem tiranik orde baru menjadi sistem demokratis dalam era reformasi terkesan mendadak tanpa masa peralihan yang memadai. Akibatnya nampak nyata pada pelaksanaan PILKADA di berbagai daerah yang seringkali disertai kerusuhan. Kerusuhan dalam era reformasi seolah-olah sudah menjadi ciri yang melekat pada kondisi sosial masyarakat Indonesia. Tawuran antar pelajar, antar mahasiswa, antar warga. kerusuhan pada pertandingan sepak bola, pada pegelaran musik, kekerasan dengan latar belakang agama sudah menjadi berita sehari-hari dalam media masa. Perselisihan mengenai berbagai masalah sosial budaya, seperti masalah “pornografi-pornoaksi” dapat menjadi ancaman potensial terhadap persatuan kesatuan bangsa. Ancaman potensial yang mungkin sekali menjadi aktual bila kita tidak mampu mengelolanya dengan baik.

Terlepas dari kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam era reformasi, kondisi ekonomi, politik, sosial budaya, dan keamanan ketertiban masyarakat memberi gambaran yang tidak terlalu menggembirakan. Seolah-olah kita sudah melupakan dan mengabaikan komitmen kita satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air. Maka sudah saatnya kita kembali “Minal ‘Aidin Wa’l Faiidzin”. Secara pribadi kita kembali kepada fitrah manusia, sebagai bangsa kita kembali kepada satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air. banyak tantangan yang kita hadapi sebagai bangsa yang tergolong masih muda, bangsa yang negaranya masih tergolong negara berkembang. Di antara sekian banyak tantangan yang paling fundamental, paling mendasar adalah tantangan mewujudkan Indonesia bersatu. Bagaimana mewujudkan bangsa Indonesia dengan kesadaran senasib sepenanggungan. Bangsa yang hidup dalam kedamaian, terintegrasi baik teritorial maupun etnik. Negara dengan kehidupan harmonis berdasarkan asas kemitraan dan satu bangsa Indonesia yang loyal dan penuh dedikasi. Untuk menjawab tantangan tersebut, pertama-tama “Minal ‘Aidin Wa’l Faiidzin”, kembali kepada “satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air “. Betapapun beratnya tantangan ini, tetapi dengan kerja keras, dibawah pimpinan yang tepat Insya Allah, kita akan berhasil meraih kemenangan.

Catatan:
Tulisan ini dimuat di BULETIN KELUARGA BESAR TUGAS PRAKARSA SILIWANGI Nomor: 35/Edisi Tahun 2008
Penulis: Drs. H. Joehanda. NPV: 09.027.773. Bandung, 3 Nopember 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s