KHULAFA AR-RASIDUN DAN ASAL MULA FAHAM SHI’AH

Khronologi :
632 : Nabi wafat, …………………… Abu Bakar Khalifah
634 : Abu Bakar wafat, …………………Umar bin Khattab Khalifah
644 : Umar bin Khattab wafat, Uthman bin Affan Khalifah.
656 : Uthman bin Affan wafat, Ali bin Talib Khalifah.
661 : Ali bin Talib wafat.
680 : Husein bin Ali wafat.
Khulafat ar-rasidun :
Khulafa ar-rasidun adalah para Khalifah yang oleh kaum Sunni diakui sebagai Khalifah yang sah. Istilah Khulafah ar-rasidun artinya para Khalifah di jalan yang benar. Mereka adalah :
Khalifah I : Abu Bakar Sidiq (632 – 634)

Dengan wafatnya Nabi, Umat Islam kehilangan pemimpin yang sangat berwibawa. Karena Nabi tidak pernah menunjuk pengganti sebagai pemimpin umat, timbul masalah siapa yang pantas memimpin Umat setelah Nabi tiada. Masalah ini berpotensi berkembang menjadi krisis yang membahayakan kelangsungan hidup Umat Islam, bila tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Keluarga Nabi berpendapat bahwa pimpinan Umat harus tetap di tangan keluarga Nmabi (Akhlul Bait). Yang paling pantas memimpin Umat adalah sepupu Nmabi, sekaligus juga menantu Nabi. Ali bin Abi Talib.
Kaum Anshar merasa bahwa sudah saatnya kaum Anshar, sebagai penduduk asli Madinah, tampil memimpin Umat, yang pusat kedudukannya adalah kota Madinah. Salah seorang tokoh terkemuka kaum Anshar, Sa’d ibnu ‘Ubada dianggap pantas menjadi pemimpin.
Sadar akan adanya bahaya perpecahan, Abu Bakar langsung mendatangi kaum Anshar untuk berunding, disertai Umar bin Khattab dan Abu Ubayda, disertai pula seorang pemimpin kabilah Madinah. Perundingan berjalan a lot, tegang, bahkan kadang-kadang suasana menjadi panas. Tetapi Abu Bakar tetap tenang; dengan cerdas ia kemukakan pikiran-pikirannya yang masuk akal dan dapat diterima oleh semua pihak. Akhirnya tercapai kesepakatan. Abu Bakar diterima untuk memimpin Umat sebagai wakil (Khalifah) dari Nabi. Keputusan ini tentu saja mengecewakan Ali bin Abi Talib dan keluarga Nabi, tetapi terpaksa diterima, karena tidak ada dukungan bagi Ali.

Masalah utama yang dihadapi Khalifah Abu Bakar adalah bahaya kehancuran Umat. Nabi sudah tiada, maka kabilah-kabilah Arab satu-persatu memisahkan diri dari ikatan Umat. Berjiwa sangat independen, kabilah-kabilah Arab itu hanya mau tunduk kepada Nabi. Dalam situasi krisis demikian, Abu Bakar membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang cakap, tegas namun dalam keadaan sesulit apapun tetap berkepala dingin.
Semua kabilah Arab yang melakukan perlawanan dalam waktu singkat dapat ditundukkannya kembali.

Awal tahun 634 Abu Bakar memerintahkan dimulainya operasi militer dengan sasaran Palestina, Syria, dan Iraq menghadapi tentara Romawi Timur (Byzantium) yang tangguh.Maka sebagian besar tentara Islam dialihkan dari Iraq ke Syiria untuk memperkuat pasukan yang sudah ada di sana.Pertempuran terjadi di Ajnadain, kurang lebih 20 mil sebelah Barat Jerusalem, sekitar bulan Juli – Agustus 634, yang secara meyakinkan dimenangkan oleh tentara Islam, berkat keberanian dan kecakapan panglima Khalid bin Walid.

Khabar kemenangan di Ajnadain membawa suasana gembira di hari-hari terakhir khalifah Abu Bakar. Ia wafat tanggal 23 Agustus 634 pada usia 63 tahun.Sebelumnya, melalui musyawarah dengan pembantu-pembantu terdekatnya ia menetapkan Umar bin Khatab sebagai penggantinya. Dalam kenangan Umat Islam, Khalifah pertama Abu Bakar Sidiq adalah pemimpin yang arif bijaksana, sederhana dan baik hati. Kesetiaannya kepada Nabi dan kepada Umat tidak pernah goyah. Dalam keadaan segawat apapun ia tidak pernah kehilangan ketenangan dan keteguhan hatinya. Dengan tegas namun tetap dengan kepala dingin ia bertindak terhadap kabilah-kabilah Arab yang meninggalkan Umat setelah Nabi wafat. Memang kepemimpinannya tidak berlangsung lama tetapi jasanya sungguh besar. Ia menyelamatkan Umat dari perpecahan dan kehancuran. Selanjutnya dengan melancarkan operasi ke Palestina, Syiria dan Iraq ia telah meletakkan dasar untuk imperium Islam.

Khalifah II : Umar bin Khattab (634 – 644).
Penetapan Umar bin Khattab sebagai Khalifah tidak ada yang menentang, baik dari pihak Ali bin Abi Talib maupun dari pihak kaum Anshar. Maka Umar dapat menjalankan kebijaksanaannya tanpa khawatir akan adanya hambatan dari dalam. Masa kepemimpinannya tercatat dalam sejarah Islam sebagai masa yang sangat membanggakan. Mesir dan Syria dapat ditundukkan. Demikian juga kekuasaan Persia sepertinya dengan mudah dapat ditumbangkan. Maka Khalifah kedua dihadapkan kepada masalah bagaimana menjalankan pemerintahan dalam wilayah yang dengan cepat bertambah luas dan dengan penduduknya yang majemuk. Namun Umar membuktikan diri seorang pemimpin dan negarawan yang cakap.Dalam masa kepemimpinannya-lah Imperium Islam terwujud.

Kemenangan di Ajnadain disusul dengan jatuhnya Damascus ke tangan tentara Islam, September 635.Kaisar Romawi Timur (Byzantium), Herachlius mengarahkan kekuatan militer yang besar untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya. Syiria. Menghadapi keadaan demikian. Khalid bin Walid mundur ke Selatan, bahkan Damascus ditinggalkannya. Akhirnya dua kekuatan besar berhadapan di tepi sungai Yarmuk, tentara Romawi di Utara, tentara Islam dengan jumlah lebih kecil, di Selatan. Pertempuran pecah dengan hebatnya tanggal 20 Agustus 636, diakhiri dengan kemenangan besar di pihak tentara Islam. Buktilagi tentang keberanian dan kepiawaian Khalid bin Walid sebagai panglima perang, yang oleh Nabi sendiri dijuluki “seifullah”, pedang Allah. Setelah Yarmuk, kota demi kota menyerah tanpa perlawanan.Penyerahan Jerusalem diterima langsung oleh Klhalifah Umar sendiri, akhir 637 atau awal 638 . Tahun itu juga Caecarea, benteng Romawi terakhir di Palestina ditaklukkan. Dengan demikian berakhirlah perang Syria. Sementara itu Umar memberhentikan Khalid sebagai panglima; tindakan yang nampaknya seolah-olah tidak menghargai jasa-jasa Khalid, apalagi setelah kemenangan besar di Yarmuk. Rupanya telah terjadi kekejaman dan korupsi yang menjadi tanggung jawab Khalid, dan Umar yang terkenal tegas dan jujur menuntut standar yang seintggi tingginya dari para pembantunya.

Setelah kemenangan besar di Yarmuk, tidak ada keraguan lagi tentang kesudahan perang Syria.Maka Umar kini dengan sungguh-sungguh menangani operasi Iraq , yang tadinya agak terabaikan.Ditunjuknya Sa’d bin Abi Waqas, seorang prajurit berpengalaman, veteran perang Badr dan Uhud, sebagai panglima. Untuk mempertahankan Iraq, kekaisaran Persia mengerahkan tentaranya dalam kekuatan besar. Namun gerak maju tentara Islam tidak terbendung. Dalam pertempuran empat hari di dataran Kadisiya tahun 637, tentara Persia menderita kekalahan telak.Ibu kota Persia, Ctesiphon diduduki tentara Islam.Kemudian tahun 642, tentara Persia menderita kekalahan lagi dalam pertempuran di Nihavand, kekalahan yang merupakan pukulan terakhir bagi Persia dan meruntuhkannya.

Sementara itu Panglima Amr bin al-As, setelah mendapat lampu hijau dari Khalifah Umar, bergerak ke Barat dengan sasaran Mesir yang masih dikuasai Byzantium (Romawi Timur).Markas tentara Romawi di Heliopolis, direbut tahun 640. Tahun 641, garnisun Romawi di Babylon menyerah. Alexandria, pusat pemerintahan Romawi di Mesir, diduduki September 642. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Byzantium di Syria, Palestina dan Mesir.Dalam waktu bersamaan, Persia mengalami nasib sama di Iraq, bahkan setelah pertempuran di Nihavand, imperium Persia sudah runtuh.

Pembalasan Persia untuk kejatuhannya langsung menimpa Umar, Pada tanggal 4 November 644, ketika Umar memimpin shalat berjama’ah di mesjid, seorang budak Persia bernama Abu Lulu’a, menyerbu maju dan menikamnya enam kali dari belakang. Khalifah Umar bin Khattab wafat pada usia 53 tahun. Di saat-saat terakhir ditunjuknya Shura untuk memilih Khalifah berikutnya.

Pemimpin bergaya lugas, tegas tetapi juga bijak dan arif. Negarawan yang cakap, mampu mengelola pemerintahan dengan wilayah kekuasaan yang membentang dari Mesir sampai Persia, dengan penduduknya yang majemuk. Sifat dan perilakunya yang sederhana, bersahaja tidak berubah, sekalipun memegang tampuk kekuasaan tertinggi imperium yang didirikannya. Itulah Khalifah II, Umar bin Khattab, pemimpin dengan gelar yang amat pantas, Amirul Mu’minin.

Khalifah III : Uthman bin Affan (644-656).
Shura yang ditunjuk oleh Khalifah Umar memilih Uthman bin Affan sebagai Khalifah III. Hartawan, rupawan dan elegan,Uthman bukan orang kuat, bahkan dapat dikatakan lemah, tidak tegas, tetapi dari keluarga Mekah yang sangat berpenmgaruh,Bani Umaya. Untuk ketiga kalinya Ali bin Talib tersisihkan. Tentu saja pengikut Ali amat kecewa, kekecewaan yang membahayakan persaudaraan Umat dan akhirnya berakibat perpecahan.

Masa kepemimpinan Uthman 644-656, sebenarnya tidak sepi dari keberhasilan, Khurasan ditaklukkan tahun 651-653. Demikian juga Armenia, tahun 653-655. Maka terjadi perluasan wilayah, batasnya sudah mencapai sampai Oxus.
Kitab suci Al Qur’an dibakukan, dengan diresmikannya Mushaf Uthman bin Affan sebagai satu-satunya versi Al Qur’an yang sah. Versi-versi lainnya dimusnahkan.
Tetapi Uthman tidak mampu memelihara persatuan dan kesatuan Umat. Kebijakan-kebijakannya dalam menjalankan pemerintahan banyak menimbulkan ketidak puasan dan ditentang oleh berbagai kalangan, juga oleh kalangan tentara. Ketidak-puasan makin meluas, dan akhirnya memuncak menjadi pemberontakan terbuka. Bulan Juni 656 Khalifah Uthman bin Affan wafat, dibunuh oleh pemberontak yang mendobrak memasuki rumahnya di Madinah. Pembunuhan Khalifah III, yang dilakukan oleh sesama Muslim memicu reaksi berantai yang berdampak dalam dunia Islam hingga sekarang.
Khalifah IV: Ali bin Abi Talib (656-661).

Dengan wafatnya Khalifah Uthman bin Affan timbul masalah besar, siapa penggantinya sebagai pemimpin Umat. Tidak ada petunjuk yang baku tentang pergantian Khalifah, dan Uthman tidak sempat menunjuk penggantinya. Calon kuat adalah Ali bin Abi Talib, sepupu Nabi yang juga menantunya. Dukungan untuk Ali datang dari kalangan yang tidak puas dengan kepemimpinan Uthman, dan tentu saja dari keluarga Nabi (Ahlul Bait). Dengan dukungan mereka Ali menyatakan diri sebagai Khalifah. Bani Umaya tidak mengakui9 hak Ali, bahkan menuntut balas untuk pembunuhan Uthman. Demikian juga Aisyah, janda Nabi, dan sahabat Nabi. Talha dan Zubair, menentang Ali. Untuk mempertahankan kedudukannya, Ali terpaksa memerangi pihak-pihak penentangnya. Aisyah, Talha dan Zubair beserta pengikut-pengikutnya dikalahkan dalam perang Jamal, atau perang Unta tahun 656. Disebut “perang Unta” karena Aisyah sendiri terjun dalam pertempuran dengan menunggang unta. Dengan kemenangannya itu, Ali sepenuhnya menguasai Iraq, yang kemudian dijadikan basis kekuasaannya. Ibu kota dipindahkan dari Madinah ke Kufa.

Bani Umaya, yang dipimpin oleh gubernur Syria Mu’awiya, tetap menolak untuk mengakui kepemimpinan Ali, sehingga Ali terpaksa menggunakan kekerasan. Di Siffin, untuk kedua kalinya Muslim bertempur melawan Muslim (Juli 657). Ketika pertempuran hampir dimenangkan oleh Ali, disarankan oleh Amr bin Al-As, yang mendukung Mu’awiya untuk menghentikan pertumpahan darah antar sesama Muslim melalui perundingan. Saran ini disetujui, dan sementara para juru runding dari kedua belah pihak bekerja, pertempuran dihentikan. Hasil perundingan, yaitu agar dibentuk Shura untuk menentukan siapa yang berhak menjadi Khalifah, ditolak oleh Ali, Konflik tidak berakhir, sementara kubu Ali semakin lemah karena sebagian pengikutnya memisahkan diri. Kecewa dengan kepemimpinan Ali, mereka juga menyalahkan Mu’awiya dan Amr bin al-As untuk terjadinya konflik berkepanjangan di kalangan umat. Mereka dikenal sebagai kaum “Khawarij”, yang dengan gigih melakukan perlawanan terhadap Ali dan Mu’awiya, dengan menggunakan taktik teror. Percobaan pembunuhan dengan sasaran Amr bin al-As dan Mu’awiya gagal, tetapi berhasil terhadap sasaran lainnya. Januari 661, Ali dibunuh ketika memasuki mesjid di Kufa, Khalifah ketiga yang wafat karena pembunuhan. Usianya waktu itu sudah melampaui 60 tahun. Sejak usia remaja., Ali adalah pengikut Nabi yang setia. Prajurit ulung yang keberaniannya dalam pertempuran serta kemampuannya sebagai panglima disegani oleh lawan dan kawan. Tetapi bukan negarawan yang cakap, sehingga gagal dalam percaturan politik menghadapi Mu’awiya, dan tidak mampu menundukan kaum Khawarij. Di sisi lain Ali adalah pribadi dengan integritas moral tanpa cacat. Bagi pengikutnya hanya Ali yang diakui sebagai Khalifah yangsah, sedangkan Khalifah 2 sebelumnya dianggap telah merampas hakj Ali, oleh karena itu kepemimpinannya tidak sah. Apalagi setelah wafat, Ali dikenang sebagai Imam, pemimpin yang tingkatnya hanya sedikit di bawah Nabi sendiri.Makanya di Najaf, enam mil di sebelah Barat Kufa, setiap tahun ramai dikunjungi ribuan peziarah kaum Shi’ah. Dengan wafatnya Ali, tidak ada lagi tantangan bagi Mu’awiya. Bahkan sebelumnyapun, Juli 660, Mu’awiya sudah dinyatakan sebagai Khalifah di Jerusalem. Tentu saja kaum Shi’ah tidak mengakuinya.

Tahun 680, menyusul wafatnya Mu’awiya, anak kedua Ali, Husein, berontak melawan Bani Umaya. Tetapi ia dikalahkan dan tewas dalam pertempuyran di Karbala, 10 melawan 680 bertepatan dengan tanggal 10 Muharam 61 H. Peristiwa Karbala menghasilkan seorang martir bagi kaum shi’ah dalam diri Husein nin Ali, cucu Nabi yang konon sangat disayangnginya. Akhirnya, penganut Shi’ah menjadi semakin fanatik. Karbala dijadikan kota suci di samping Najaf, dan tanggal 10 Muharam setiap tahun diperingati dalam suasana penuh duka. Perselisihan faham Sunni – Shi’ah sampai sekarang tidak pernah teratasi, sehingga menjadi ganjalan yang sangat mengganggu upaya mewujudkan Ukhuwah Islamiyah.
Menurut taksiran Zkasar, Sekitar 10% Umat Islam di seluruh dunia adalah penganut faham Shi’ah. Mereka merupakan mayoritas di Iraq, tetapi hingga kini tidak berhasil menguasai pemerintahan.Jumlah yang besar terdapat di Yaman, Syria.Libanon dan Arabia bagian Timur, di samping beberapa kawasan Afrika dan asia.sejak abad XVI, Shi’ah adalah agama Negara di Iran, bahkan sejak jatuhnya rezim Shah, menguasai pemerintahan hingga sekarang.
Faham Shi’ah

Pada mulanya, fahjam Shi’ah sebenarnya bukan faham keagamaan. Penganut Shi’ah adalah tetap Muslim. Faham, shi’ah muncul karena masalah suksesi kepemimpinan Umat, jadi sebenarnya karena masalah politik. Berkembang menjadi faham keagamaan setelah peristiwa Karbala, 10 Muharam 61 H yaitu tewasnya cucu Nabi, Husein bin Ali dalam pertempuran melawan tentara Bani Umaya.Dalam hal aqidah pada prinsipnya boleh dikatakan tidak ada perbedaan dengan faham Sunni, atau biasa disebut Ahlus sunnah wa’l-jama’ah. Perbedaan ada dalam hal kepemimpinan jama’ah. Sunni tidak mengenal pimpinan terpusat. Di kalangan Shi’ah ada pemimpin yang disebut imam. Oleh karena itu Ali bin Abi Talib disebut Imam Ali, demikian juga Husein bin Ali selalu disebut Imam Husein.Kaum Shi’ah percaya bahwa suatu waktu akan muncul seorang Imam keturunan Ali, yang akan memimpin Umat Islam seluruhnya, mencapai kejayaan. Selain itu pada umumnya kaumn Shi’ah bersifat militan.

Bandung, 19 Jumadil-awal 1428 H
5 Juni 2007

Disusun oleh : Y u h a n d a
NPV. 09.027.773

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s