PISAH DARI TUHAN

Demikian judul tulisan dalam suatu majalah di negeri Belanda, yaitu majalah ELSEVIER tanggal 30 – 3 – 2002 (Judul aslinya : : Afscheid van God”). Pada sub judulnya tertulis “Pemerintah seharusnya berpegang teguh pada prinsip pemisahan antara gereja dengan negara, dan jangan memberi dorongan untuk agama.”
Berikut isi tulisan tersebut secara singkat.
A. Tuhan di negeri Belanda (God in Nederland)
Suatu penelitian tahun 1997, dengan judul di atas, menunjukkan:
1. Jumlah penduduk yang tidak lagi merasa dirinya terikat dengan gereja, meningkat dari 35% menjadi 53%.
2. Di antara yang masih anggota gereja, tinggal 44% saja yang sekali-sekali menghadiri acara kebaktian di gereja.
3. Hanya 24% dari penduduk Negeri Belanda percaya bahawa ada Tuhan yang secara pribadi mengurus kehidupan setiap manusia.
4. Hanya 5% merasa agama ada artinya bagi kehidupan.
Sejak tahun 1997 tidak ditemukan data tentang membaiknya kondisi kehidupan beragama, kecuali kemajuan yang dicapai oleh agama Islam. Sedangkan organisasi-organisasi spiritual lainnya, seperti vrijmetselaar, theosofie, pinkster, new age dan scientology, jumlah anggotanya masih sangat terbatas.

Berkurangnya pengaruh agama, tentu saja merisaukan para pemuka agama, terutama dari kalangan Nasrani. Dikhawatirkan akibatnyta akan sangat buruk bagi moral bangsa. Padahal di masa lampau agama, khususnya agama Nasrani, amat berperan sebagai faktor pendorong dalam menumbuhkan disiplin, dan sebagai faktor pemersatu. Agama dihayati pula sebagai tumpuan moral dalam kehidupan masyarakat.
Keadaan sekarang sudah berbeda jauh, seperti ditunjukkan oleh hasil penelitian tersebut di atas. Masyarakat Belanda umumnya menganut faham sekuler, dan negeri Belanda sudah lama menerapkan prinsip negara sekuler.
B. Permasalahan.
Bahwa agama merupakan faktor pemersatu, seperti sering disebut-sebut di masa lampau, kini sangat diragukan. Sebut saja kekerasan yang terjadi karena konflik-konflik dengan latar belakang agama. Memang perbedaan faham agama tidak selalu bermuara pada kekerasan. Tetapi karena perbedaan agama., kaum Katolik dan Yahudi dahulu sering diperlakukan tidak adil oleh pemerintah Belanda yang sangat dipengaruhi oleh gereja Protestan. Hubungan antara umat Katolik dengan umat Protestan pada masa pra sekularisasi tidak pernah baik, bahkan banyak dipengartuhi prasangka buruk. Sekarang masyarakat sudah lebih padu (homogen).
Masalah baru muncul dengan makin banyaknya imigran Muslim di negeri Belanda. Islam tentu saja merupakan faktor pemersatyu bagi umatnya, tetapi acapkali menyebabkan pertentangan dengan golongan-golongan non Muslim.Khutbah di mesjid-mesjid biasanya diberikan oleh imam-imam yang didatangkan dari negara-negara Islam.
Umumnya para iman itu sangat tidak menyukai gaya hidup masyarakat di negara-negara Barat. Oleh karena itu seorang anggota parlemen Belanda, OUSSAMA CHERRIBI, mengusulkan agar pemerintah menyelenggarakan pendidikan imam. Dengan demikian tidak perlu lagi didatangkan imam-imam dari luar, yang tidak memahami bahasa dan budaya Belanda, dan cenderung menghambat integrasi imigran Muslim dalam budaya Belanda, dan cenderung menghambat integrasi imigran muslim dalam masyarakat Belanda. Usul yang simpatik dan masuk akal. Tetapi akan lebih banyak ruginya daripada untungnya apabila usul ini diterima.Pemerintah Belanda akan terlibat langsung dalam pendidikan fungsionaris agama, dan ini tidak dapat dibenarkan. Pemerintah harus berpegang teguh pada prinsip pemisahan antara gereja/agama dengan negara. Rati Beatrix pun mendapat sorotan tajam, ketika dalam beberapa pernyataannya menunjukkan simpati kepada gereja Protestan.Soalnya pernyataan-pernyataan itu adalah pernyataan resmi Rati sebagai Kepala Negara.
Kritik juga ditujukan kepada lembaga-lembaga pendidikan khusus, seperti sekolah-sekolah Protestan, Katolok atau Islam, yang mengharapkan subsidi pemerintah. Bahwa masing-masing umat Protestan,Katolik atau Islam menyelenggarakan sekolahnya sendiri, tidak menjadi masalah. Tetapi jangan hendaknya sekolah-sekolah itu dibiayai oleh negara.
C. Masyarakat tanpa religi
Agama bagi banyak orang merupakan sesuatu yang amat berharga, bahkan agama dianggap esensi dari kehidupan. Dalam masyarakat yang menganut keterbukaan, semua golongan agama harus diberi peluang untuk melakukan aktivitas keagamaannya. Tetapi menurut faham sekuler, negara tidak boleh turut campur dalam aktivitas keagamaan, apalagi mendorong dan mendukungnya.Negara harus netral. Dalam kehidupan modern, negara harus dipisahkan dari agama. Negara seyogyanya pisah dari Tuhan.
Namun terjadinya erosi nilai-nilai Kristiani tidak dengan sendirinya menyebabkan kekosongan moral dalam masyarakat. Para orang tua yang agnostik dan atheispun mendidik dan membesarkan anak-anaknya sebaik mungkin agar menjadi warga masyarakat yang beradab, yang menghargai sesama manusia. Nampaknya sedang berkembang suatu sistem norma dan nilai-nilai kemanusiaan yang secara sadar atau tidak dijadikan pegangan dalam kehidupan masyarakat yang sebagian besar sudah areligius. Sistem norma dan nilai tersebut dijadikan landasan untuk mencegah erosi pada hati nurani manbusia dalam kehidupan masyarakat tanpa religi.

Bandung, 29 – 11 – 2004

Tulisan GERRY VAN DER LIST. “Afscheid van God”
Diterjemahkan/dfisadur oleh AYAH Wk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s