RIWAYAT SINGKAT NABI MUHAMMAD SAW

Masa kelahiran Nabi sampai Hijrah.
- 571 : Kelahiran Nabi
- 610 : Seluruh pertama Al Alaq (26 – 27 Ramadhan)
- 613 : = Mulai da’wah di Mekah
= 83 orang Muslim, termasuk Uthman b. Affan dan
Rugaya, hijrah ke Axus.j
- 619 : = Khadijah dan Abu Talib wafat.
= Kegagalan di Ta’if
- 620 : Hubungan dengan tokoh-tokoh Yathrib (Madinah)
- 622 : Kesepakatan dengan 75 orang tokoh Madinah.
September, Hijrah, tiba di Madinah 12 Rabiul Awal (24 September 622)
Muhammad lahir dan dibesarkan di Mekah. Tidak banyak yang diketahui tentang masa anak-anak dan masa muda Muhammad. Ayahnya, Abdullah b. Abdul Muttalib,. Wafat sebelum Muhammad lahir. Ibunya, Aminah bint. Wahab, juga wafat pada waktu Muhammad berusia 6 tahun, dan selanjutnya Muhammad dibesarkan, mula-mula oleh kakeknya Abdul Muttalib, kemudian oleh pamannya Abu Talib. Walaupun tidak terlantar, tetapi sebagai anak yatim piuatu Muhammad banyak mengalami kekurangan dalam kehidupannya. Baru setelah pernikahannya dengan Khadijah terjadi perubahan, kehidupannya mapan, kedudukan sosialnya meningkat dan Muhammad termasuk golongan masyarakat yang terpandang di kota Mekah.

Tetapi ketika mulai da’wah, sebagian besar orang Mekah menentangnya, bahkan mengucilkannya dari pergaulan masyarakat. Hanya kurang lebih 40 orang saja yang menerima ajaran Muhammad pada tahun-tahun pertama dakwahnya, di antaranya Khadijah, Ali b. Abi Talib, Abu Bakar Sidiq, Uthman b.Affan dan bilal. Kemudian bergabung pula Hamzah b. Abdul Muttalib dan Umar b. Khattab. Kelompok kecil ini memisahkan diri dari masyarakat jahiliyah dan membentuk masyarakat sendiri yang disebut Ummat, yang tunduk kepada aturan-aturan hukumnya sendiri sesuai dengan petunjuk Allah yang disampaikan oleh Muhammad. Ummat Islam yang terbentuk di Merkah itu masih sangat lemah. Baru setelah Hijrah dapat terwujud Ummat yang kokoh atas dasar Konstitusi Madinah. Konstitusi Madinah (Sahifa).
Disusun tidak lama setelah Nabi tiba di Madinah. Merupakan dokumen pertama yang memberikan gambaran tentang masyarakat Islam dan bagaimana pengaturannya.
Isi pokoknya:
- Orang-orang Muslim, baik Muhajirum maupun Anshar, bersama-sama merupakan satu Ummat (pas. 1).
- Seluruh ummat dan semua penduduk Madinah merupakan satu kesatuan dalam menghadapi musuh dari luar (pas. 16).
- Semua Mu’min tanpa pandang bulu memperoleh jaminan perlindungan dari Allah, oleh karena itu wajib saling membantu dan saling melindungi (pas. 15).
- Perbedaan faham dan sengketa diselesaikan menurut petunjuk Allah dan Muhammad (pas. 23, 42).
Di samping itu masih ada ketentuan-ketentuan mengenai orang-orang Yahudi madinah (pas. 24, 25, 37, 38), mengenai orang-orang kafir Madinah (pas. 14, 15, 20), mengenai keadaan perang (pas. 17) dan sebagainya.
Perang
Dengan berdirinya Ummat di Madinah maka diadakan pemisahan antara Daral Islam (wilayah Islam) dan Dar al Harb (wilayah perang), yaitu wilayah yang masih dikuasai oleh orang-orang kafir dan musuh-musuh Islam lainnya.
Perang memang terjadi, dioantaranya yang terkenal adalah :

- Perang Badr (Maret 624)
Tentara Mekah berkekuatan kurang lebih 1000 orang dihadapi oleh tentara Islam berkekuatan 300 orang, tetapi tentara Islam yang menang.
- Perang Uhud (21 Maret 625/3 Sawal 3 H)
Tentara Mekah, 3000 orang, tentara Islam 1000 orang, Tentara Islam menderita kekalahan, namun kekalahan yang tidak menentukan.
- Perang Khandaq (akhir Maret 627)
Tentara Mekah 10000 orang, tentara Islam 3000 orang. Tentara Mekah tidak berhasil mengalahkan tentara Islam dan akhirnya kembali ke Mekah.
Ikrar Hudaybiya
Maret 628, Nabi menyatakan niat untuk melaksanakan ibadah Umrah. Dengan rombongan berjumlah kurang lebih 700 orang Nabi berangkat menuju Mekah. Tentu saja orang Mekah menghalang-halanginya. Namun rombongan berhasil mencapai Hudaybiya, antara 9 sampai 10 mil sebelah Barat Laut Mekah. Di situ para sahabat dan semua anggota rombongan berikrar untuk membela Nabi sampai titik darah penghabisan apabila diserang oleh tentara Mekah. Ikrar ini terkenal sebagai Ikrar Mudaybiya.
Gencatan senjata yang menurut persetujuan Hudayiya berlaku 10 tahun ternyata tidak dapat dipertahankan. Pada bulan Rajab tahun 8 H (November 629), Baru bkrs, sekutu Quraish menyerang sekelompok anggota kabilah Khuria sekutu nabi 20 orang Khua’a tewas. Dengan terjadinya pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Quraish. Ketentuan tidak saling menyerang selama 10 tahun bagi kedua belah pihak sudah tidak mengikat lagi.
Ternyata apa yang dikhawatirkan, yaitu serangan tentara Mekah, tidak terjadi. Yang terjadi adalah perundingan yang menghasilkan persetujuan sebagai berikut:
1. Gencatan senhata untuk waktu 10 tahun.
2. Ibadah Umrah ditangguhkan sampai tahun berikutnya.
Sesuai persetujuan Hudaybiya, maka pada tahun 629 Nabi melaksanakan ibadah Umrah, disertai rombongan berjumlah kurang lebih 2000 orang. Penduduk Mekah menyaksikannya dari bukit-bukit sekeliling kota, dan mereka sangat terkesan dengan kewibawaan Nabi serta ketertiban dan disiplin yang ditunjukkan oleh semua anggota rombongan dari Madinah. Para pemimpin Qureish menjadi yakin bahwa Muhammad tidak mungkin dikalahkan karena kedudukannya sudah terlalu kuat. Sejak kegagalan tentara Mekah dalam perang Khandaq (tahun 627), sudah jelas bahwa perang melawan Ummat Islam adalah sia-sia.
Sementara itu pada tahun 8 H.(September 629), tentara Islam berkekuatan 3000 orang, di bawah pimpinan Zayd b. Haritha, beregerak ke Utara memasuki wilayah kerajaan Romawi Timur (Byzantine Empire). Pertempuran dengan tentara Romawi terjadi di Mu’ya, dan di pihak Islam banyak yang gugur, termasuk para pemimpinnya, berturut-turut Zayd b. Haritha sendiri, Ja’far b. Abi Talib dan Abdallah b. Rawaha. Tentara Islam mundur dan kembali ke Madinah di bawah pimpinan Khalid b. Walid. Inilah pertempuran pertama antara tentara Islam dengan tentara Nasrani.
Mekah ditaklukkan (Al Fatah).
Setelah persiapan yang matang maka pada tanggal 10 Ramadhan tahun 8 H. (1 Januari 630), tentara Islam berkekuatan 10000 orangh, di bawah pimpinan Nabi sendiri, bergerak menuju Mekah. Dua hari perjalanan sebelum Mekah, tentara Islam membuat bivak. Di situ Nabi menerima utusan dari Mekah, yaitu Abu Sufyan, salah seorang tokoh Qureish yang sangat gigih menentang Nabi. Tetapi kini Abu Sufyan tidak berdaya, bahkan ia masuk Islam. Setelah berunding dengan Nabi, ia kembali ke Mekah dengan membawa hasil perundingan sebagai berikut :
- Tidak ada bahaya apapun bagi penduduk Mekah, apabila kedatangan Nabi diterima dengan damai.
- Perlawanan adalah sia-sia.
- Setiap orang dijamin keselamatan jiwa dan hartanya kecuali yang melawan.
- Semua penduduk Mekah supaya meletakkan senjatanya.
Pada hari Kamis tanggal 20 Ramadhan tahun 8 H, (11 Januari 630) Nabi memasuki kota kelahirannya. Ka’aba dibersihkan dari semua berhala kaum kafir, dan dengan khidmat dinyatakan sebagai Baitullah. Terhadap orang-orang Qureish yang selama ini memusuhinya, Nabi bersikap sangat bijaksana, sehingga hampir semua pimpinan Qureish menjadi pengikutnya yang setia.
Dua peristiwa patut dicatat selama Nabi ada di Mekah. Pertama, pertempuran di Hunayn antara tentara Islam berkekuatan 12000 orang, dengan orang-orang Hawasin, suatu perserikatan kabilah-kabilah Arab yang dibantu pula oleh kabilah Thaqif, seluruhnya berkekuatan 20000 orang. Kabilah-kabilah Hawazinb, musuh lama Qureish, bersekutu dengan kabilan Thaqif untuk menyerang Mekah. Pertempuran terjadi pada tanggal 31 Januari 630, dengan kemenangan di pihak tentara Islam.
Peristiwa kedua adalah pelaksanaan ibadah Umrah yang pertama kali setelkah Mekah jatuh ke tangan Muslim, dan merupakan ibadah Umrah kedua yang dilaksanakan oleh Nabi setelah Hijrah.
Pada tanggal 27 Zul Qaidah tahun 8 H. (18 Maret 630) Nabi kembali ke Madinah dalam keadaan yang amat berbeda dengan waktu Hijrah 8 tahun yang lalu. Kini seluruh Hejaz mengakuyinya sebagai seorang pemimpin yang sangat berpengaruh dan disegani serta harus diperhitungkan dalam percaturan politik waktu itu. Dari seluruh jazirah Arab berdatangan utusan-utusan ke Madinah. Pemimpin-pemimpin Oman dan Bahrain masuk Islam. Bahkan gubernur Persia di Yaman memberi pengakuan kepada Nabi.
Ibadah Haji
Dengan jatuhnya Mekah ke tangan Muslimin, ibadah Haji sudah dapat dilaksanakan dengan bebas. Ibadah Haji tahun 8 H. dipimpin oleh gubernur Mekah Attab b. Asid. Pesertanya masih terdiri dari baik Muslim maupun orang-orang Kafir. Tahun berikutnya, Zu’l hijjah 9 H (Maret-April 631) Abu Bakar diutus oleh Nabi untuk memimpin ibadah Haji, dengan diberi petunjuk bahwa orang-orang kafir masih diizinkan turut serta untuk terakhir kalinya. Baru setahun kemudian, Nabi sendiri melaksanakan ibadah Haji. Tanggal 5 Zu’l Hijjah tahun 10 H (3 Maret 632) Nabi tiba di Mekah, dan dengan disertai rombongan yang besar melaksanakan Umrah. Selanjutnya tanggal 8 Zu’l Hijjah mulailah ibadah Haji, suatu peristiwa yang amat penting, karena apa yang dicontohkan oleh Nabi pada waktu itu akan menjadi Rukun Haji yang baku,. Selesai melaksanakan Haji, Nabi berpesan kepada Ummat, antara lain yang terpenting, agar senantiasa bersatu dalam Ikhuwah Islamiyah. Ditegaskan oleh Nabi bahwa di hadapan Allah semua manusia sama, tidak dibeda-bedakan atas dasar kedudukan sosial atau ras. Yang membedakannya hanyalah ketaqwaannya kepada Allah Swa.
Setelah istirahat seperlunya, Nabi segera kembali ke Madinah. Hanya dua bulan kemudian Nabi jatuh sakit, dan wafat pada tanggal 12 Rabi’ul awal tahun 11 H. (8 Juni 632). Oleh karena itu ibadah Haji tahun 10 H. disebut Gaji Wa’da yang berarti Haji perpisahan.
Muhammad rasulullah
Akhir hayat Muhammad b.Abdullah dari Qureish sekali-kali bukan akhir bagi Muhammad Rasululklah. Agama yang diajarkannya menjadi agama dunia yang pemeluknya berjumlah ratusan juta (ditaksir 935.000.000 pada tahun 19990). Nasrani 1.750.000.000, Yahudi 17.000.000. Demikian pula negara Islam yang diciptakannya, dalam kurun waktu satu abad saja telah menjadi imperium yang membentang dari Spanyol sampai ke India. Para pakar Baratpun mengakui bahwa terwujudnya imperium Islam yang demikian besarnya, dalam waktu hanya satu abad, merupakan keajaiban sejarah yang sungguh luar biasa (The creation within space of a single century of a vast Arab Empire stretching from Spain to India, is one of the most extraordinary marvels of history). Dan selama empat abad (kurang lebih antara 800 – 1200) di negeri-negeri dalam lingkungan imperium Islam ini tumbuh dan berkembang suatu peradaban yang tiada taranya dalam sejarah kemanusiaan (one of the most brilliant civilizations in the history of humanity). Itulah zaman keemasan Islam yang ditandai dengan dinamika dan kemajuan di segala aspek kehidupan masyarakat. Keamanan terjamin, dan kondisi aman mendorong kegiatan ekonomi yang semakin bergairah sehingga kemakmuran dan kesejahteraan terus meningkat. Pada zaman itu pula tumbuh tradisi Muslim yang sangat menghargai ilmu pengetahuan, yang memang ada dasarnya yang kuat dalam Qur’an dan Hadith. Dengan giatnya melakukan penelitian dan pengembangan dalam pelbagai disiplin ilmu. Yang termashur di antaranya adalah :
Ibnu an-Nafis (meninggal) tahun 1288), Ali at-Tabari (sekitar tahun 850-an), Moh. Ar-Razi (865 – 925) dan Ibnu Sina (950 – 1037), dalam Ilmu Kedokteran dan Farmacologie.
Al-Khwarizmi (meninggal tahun 846) dengan karyanya yang sangat terkenal “Hisaab al-jabr wa-l mukabala”, dalam ilmu Matematika, khususnya Ilmu Aljabar. Ibnu Jubair (1145 – 1217), Ibu Batuta (1304 – 1377) dan Al Biruni (973 – sekitar 1050), dalam Geografi.
Ibnu al-Mukaffa (sekitar 720 – 756), Firdausi (sekitar tahun 1000-an), Moh at-Tabari (838 – 923) dengan karyanya yang sangat terkenal “Tarikh ar-Rusul wa’l Muluk”, dan Rashid ad-Din, dalam Ilmu Sejarah.
Demikian juga dalam Ilmu Kimia, Astronomi dan arsitektur dihasilkan karya-karya besar, seperti karya-karya arsitektur, antara lain bangunan Taj Mahal di Agra, mesjid-mesjid di Condoba, Granada (Al-Hambra), Sevilla dan Istambul (Aya Sofia).
Bersamaan dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, kehidupan seni budaya juga berkembang dengan suburnya dan menghasilkan karya-karya seni Kaligrafi dan karya Sastera, baik poesi maupun prosa yang terkenal hingga sekarang, seperti Khasida 7 Mu’allakat dan “Alf Laila wa Laila” (1001 malam).
Perkembangan yang menakjubkan ini terjadi karena pada waktu itu tercipta kondisi yang memungki9nkannya, berkat kebijaksanaan pimpinan-pimpinan tertinggi imperium Islam yang semuanya adalah keturunan Wureish. Sedangkan imperium Islam dapat terwujud karena jasa-jasa dari Khulafa ar-Rashidun, yaitu para Khalifah Abu Bakar Sidiq, Umar b. Khatab, Uthman b. Affan dan Ali b. Abi Talib, dengan dibantu para Panglimanya, di antaranya yang paling terkenal, Khalid bin Walid dan Amir bin al-‘As. Tetapi apabila ditelusuri asal mulanya, siapa yang meletakkan dasar-dasarnya, maka semuanya kembali pada satu orang saja. Seorang tokoh Qureish yang sampai akhir khayatnya tetap berperilaku sederhana, tidak pernah berpretensi sebagai orang suci tanpa dosa, tidak membenarkan dirinya disanjung-sanjung apalagi dikultuskan, dan selalu menyatakan dirinya adalah manusia biasa, namun demikian kebesarannya sebagai pemimpin diakui oleh kawan dan lawan. Itulah Muhammad rasulullah, panutan bagi ratusan juta manusia Muslim.

Caringin, 11 Rabi’ul Awal 1414 H
29 Agustus 1993

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s